Belajar Setia Pada Senja

Jakarta Dalam Senja

Ia mengawal

Dalam terang sebelum petang

Ia menjaga

Dalam surya sebelum rembulan

Ia mendiami

Dalam bising sebelum sunyi

Ia menunggu

Dalam ragu sebelum tentu

Ia menanti

Dalam sangsi sebelum pasti

Jakarta, Dalam Sebuah Senja

Inay

Sampai Jumpa Lagi Kejora!

Di penghujung usaha saya mendapatkan foto terbaik untuk mengabadikan Bandung malam ini, saya terduduk.

Lesu.

Betapa jerih dan payah, hanya untuk berbagi cantiknya langit yang saya lihat di loteng rumah malam ini.

Satir.

Saya bahkan hampir lupa cara menikmati langit tanpa gawai, namun mampu mengutak-atik foto dan kata di media sosial dengan lihai.

Bahana.

Gemericik air dan desir angin ternyata sedang berlomba dengan suara musik dari rumah tetangga. Sirine ambulan dan raungan motor pun seakan tak ingin ketinggalan, bergegas ikut menyumbang suara.

Sejenak.

Ternyata hanya perlu diam sekejap, sesaat dalam penat. Mencoba kembali peduli akan apa yang terjadi di sekitar, bukan di layar.

Rehat.

Seperti kehidupan, yang senyatanya perlu jeda dalam setiap tarikan napas dan hembusan. Mundur sesaat. Beristirahat dari belenggu takut dan pusaran harapan yang mendera.

Dan dalam syukur, izinkah saya berkata. Sampai jumpa lagi kejora!

Bandung, 14 Juli 2017

Inay

Sembilu Rindu

Setiap langkah kaki yang diayunkan ke tempat ini, entah bagaimana selalu memberikan rasa yang sama. Meskipun banyak perbedaan yang kasat mata hampir pada setiap sudutnya, namun nyatanya ia selalu menawarkan ketenangan yang serupa. Syahdu.

Ah, bukankah perubahan itu suatu yang niscaya, ini soal jiwa yang siap atau tidak menghadapinya. Belajar menuliskan memori di lembar yang baru, begitulah kehidupan menyuguhkan kenyataan.

Yang mengganggu dan menelisik kalbu, biarlah ia berlalu tanpa ragu. Dimana ia bersahut, kepada siapa ia terpaut, tak akan jauh dari sembilu.

Maka ucapkan selamat tinggal rindu?

Satu atau Nol

Di kala setiap benda memiliki tombol power yang menentukan hidup dan matinya, begitu pula setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan keduanya.

Hidup dan mati. Satu atau nol.

Jika benda dapat sesuka hati dihidupkan dan dimatikan kembali selama masih ada energi yang mengalir, tidak demikian dengan nyawa. Hanya ada satu kali kesempatan di dunia, dimana kehidupan dimulai dari kelahiran untuk kemudian diakhiri dengan kematian.

Ah, sungguh memang benar kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, selayaknya waktu antara adzan dan shalat. Dan dalam sekejap yang sungguh tak lama itu, apakah sudah kita gunakan dengan baik untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita ketahui akan ditanyakan kemudian?

Ada kalanya, satu per satu atau berombongan, tombol power makhluk yang bernyawa sudah memasuki waktunya untuk ditekan. Iya, sesederhana hanya menunggu giliran untuk penjemputan. Maka cukuplah sabar menjadi pendamping di dunia. Dan pertemuan indah dengan Cinta yang sebenar-benarnya cinta, menanti para makhluk yang niscaya tak pernah berhenti untuk percaya.

“Tak kulihat yang seperti surga, dengan segala gambaran kenikmatannya, bagaimana masih bisa tidur pemburunya? Dan tak kulihat yang seperti neraka, dengan semua lukisan kengeriannya, bagaimana masih bisa tidur buronannya?” (Imam Asy Syafi’i)

Dalam hening senja Bandung,
6 Juli 2017

Inay

*Tulisan ini terinspirasi dari saya yang sekarang hobi mencet tombol power di remote TV karena ga tahan sama suara berisiknya. Gara-gara kelamaan ga punya TV jadi beginilah sekarang, lebih menyukai ketenangan. 😅

Sajak Dua Tepian

image

Aku berdiri di antara batas dua tepian.
Masa lalu dan masa depan.

Aku termenung di antara batas dua tepian.
Harapan dan kenyataan.

Aku menghela di antara batas dua tepian.
Impian dan kenangan.

Aku menerawang di antara batas dua tepian.
Ketenangan dan kegundahan.

Aku terusik di antara batas dua tepian.
Pertanyaan dan jawaban.

Aku terpaku di antara batas dua tepian.
Keikhlasan dan kedengkian.

Aku mematung di antara batas dua tepian.
Keraguan dan keniscayaan.

Aku tersenyum di antara batas dua tepian.
Doa dan ampunan.

Curhat buat Sahabat

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita

Telah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini ….

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri, oh, dewiku….”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Tidak lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji ….

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku….”

Wahai, Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Oleh Dee dalam Rectoverso

Menunggu Angka

Bukankah menjadi dewasa tak perlu menunggu angka
Tak ayalnya menjadi tua
Kenikmatan tak terhingga untuk dapat melewatinya

Tak ada yang berbeda
Berganti hari berarti bertambah usia
Meski kadang tak seiring dengan kematangan yang ada

Sepenggal puisi menjadi pilihan utama
Teman bercerita yang tak pernah berdusta
Juga tanpa peduli seiya sekata ataupun tidak

Sungguh hanya 24 jam yang sama
Tak ada pesta ataupun euforia
Tanpa nyanyian tanpa lilin tanpa tiupan

Sebuah pengulangan yang nyata
Pengingat bahwa waktu sudah terpakai cukup lama
Sementara hanya ada sisa detik yang berharga

Berlomba mengejar gelar dunia
Tak habis berkejaran memuaskan dahaga
Terlena nafsu yang bergerak tanpa duga

Memang manusia berlalu dengan sementara
Syukur tak berbatas atas perpanjangan masa
Izinkan yang tersisa menjadi bekal yang penuh asa

Jakarta, 19 November 2013

~Inay

Hanya Jarak

Jarak, bukankah hanya rangkaian jejak yang perlu digenapi setiap jengkalnya

Jarak, bukankah hanya irama tarikan napas yang saling mengisi dengan hembusannya

Jarak, bukankah hanya adu pandang dua indra dengan setitik bayang di tujuannya

Jarak, bukankah hanya sebentuk ruang dan waktu dengan tempo tanpa jeda bersamanya

Jarak, bukankah hanya sebuah besaran yang sebanding dengan kecepatan dan detik yang dilaluinya

Hanya jarak, apakah bisa memisahkan atom yang berada dalam satu frekuensi yang sama?

Suatu pagi, sendiri dalam keramaian Jakarta

Inay

Sebait Doa

Ya Allah, bolehkah aku tetap meminta
Hal yang sama yang pernah ku kata
Tetap bantu aku menjaga

Hati yang tak sepantasnya berderu
Jantung yang tak seharusnya berdegup
Otak yang tak semestinya berpacu

Biarkan mulut ini hanya membisu
Izinkan mata ini menunduk malu
Tuntun kaki ini melangkah maju

Karena-Mu yang lebih mulia dari apapun yang ku tunggu

Barito Selatan, 18 Okt 2013

Inay