Satu atau Nol

Di kala setiap benda memiliki tombol power yang menentukan hidup dan matinya, begitu pula setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan keduanya.

Hidup dan mati. Satu atau nol.

Jika benda dapat sesuka hati dihidupkan dan dimatikan kembali selama masih ada energi yang mengalir, tidak demikian dengan nyawa. Hanya ada satu kali kesempatan di dunia, dimana kehidupan dimulai dari kelahiran untuk kemudian diakhiri dengan kematian.

Ah, sungguh memang benar kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, selayaknya waktu antara adzan dan shalat. Dan dalam sekejap yang sungguh tak lama itu, apakah sudah kita gunakan dengan baik untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita ketahui akan ditanyakan kemudian?

Ada kalanya, satu per satu atau berombongan, tombol power makhluk yang bernyawa sudah memasuki waktunya untuk ditekan. Iya, sesederhana hanya menunggu giliran untuk penjemputan. Maka cukuplah sabar menjadi pendamping di dunia. Dan pertemuan indah dengan Cinta yang sebenar-benarnya cinta, menanti para makhluk yang niscaya tak pernah berhenti untuk percaya.

“Tak kulihat yang seperti surga, dengan segala gambaran kenikmatannya, bagaimana masih bisa tidur pemburunya? Dan tak kulihat yang seperti neraka, dengan semua lukisan kengeriannya, bagaimana masih bisa tidur buronannya?” (Imam Asy Syafi’i)

Dalam hening senja Bandung,
6 Juli 2017

Inay

*Tulisan ini terinspirasi dari saya yang sekarang hobi mencet tombol power di remote TV karena ga tahan sama suara berisiknya. Gara-gara kelamaan ga punya TV jadi beginilah sekarang, lebih menyukai ketenangan. 😅

Belajar Kecewa

Saya teringat akan satu pertanyaan yang diajukan ketika saya mengikuti wawancara seleksi beasiswa LPDP. Pertanyaan singkat dari salah seorang pewawancara yang berasal dari Psikologi Universitas Indonesia.

Coba ceritakan tentang kekecewaan yang pernah kamu alami.

Jujur saya termenung cukup lama. Dalam hati saya jumawa, ah saya kan tidak pernah kecewa, saya selalu belajar mensyukuri apa yang terjadi dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa. Saya memutar otak kembali, tapi saya perlu jawaban untuk pertanyaan ini. Pikiran saya yang tadi bukanlah jawaban yang akan memuaskan beliau, saya yakin beliau akan menggali lagi terus hingga mendapatkan jawaban yang diinginkan. Kemudian saya putuskan untuk menceritakan kegagalan saya dalam seleksi beasiswa LPDP sebelumnya.

 

Iya, saya sempat gagal dalam seleksi administrasi LPDP batch 1 tahun 2015.  Kegagalan yang membuat saya tidak dapat berangkat kuliah ke Manchester di September 2015. Di tengah penjelasan panjang, saya ternyata beberapa kali menarik napas yang cukup berat. Perlahan menyelami runtuhnya rencana masa depan saya kala itu. Saya yang sudah telanjur ingin pergi dan meninggalkan rutinitas di kantor, bahkan sempat berpikir untuk mengundurkan diri lebih awal meskipun belum mengantongi beasiswa. Namun saya berusaha berpikir dengan jernih di tengah kepingan mimpi yang berserakan.

 

Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk tetap bekerja sembari berusaha menyusun rencana baru untuk masa depan. Atau mungkin sebenarnya alasan saya tetap bekerja sesederhana saya masih perlu uang untuk bertahan hidup. Bertahan hidup di ibukota, tempat dimana mimpi saya mulai dibangun. Namun sisi positifnya adalah di tahun itu akhirnya saya bisa merasakan hidup nyaman di tempat tinggal yang saya miliki dari tetes keringat saya sendiri. Iya, inilah alasan terbesar saya masih perlu uang.

 

Dari kegagalan itu, saya perlahan menyusun strategi untuk kembali melanjutkan mimpi. Tidak pernah terbersit di pikiran saya untuk mengubur mimpi-mimpi itu, saya biarkan mereka tetap hidup mengganggu kenyamanan diri. Selepas bercerita tentang kisah kekecewaan tersebut, saya pun berpikir. Ah iya, saya sebenarnya pernah kecewa namun saya ternyata bisa melewatinya dan menghapus kata kecewa itu dalam kosakata hidup saya.

 

Dan hari ini saya seperti tertampar kembali, inilah sebuah perasaan yang sempat kau lupakan geliatnya. Kecewa ternyata hadir menyapa.

Jangan berharap kepada manusia karena niscaya kamu akan kecewa.

Sejak membaca kalimat tersebut untuk pertama kalinya, saya selalu berusaha berharap hanya kepada Ia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam perjalanan ini kemudian saya mengerti bahwa berharap lalu kecewa itu bagian dari fitrah. Dari sekian banyak siklus harap dan kecewa yang pernah saya lalui, saya belajar. Saya belajar untuk kecewa dan menghadapinya. Saya belajar membuka mata saya untuk mengakui bahwa saya sesungguhnya memang kecewa. Saya bukan manusia super yang sepantasnya jumawa dengan tidak pernah kecewa.

 

Menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis.

Menghadapi kekecewaan bukan berarti tidak boleh bersedih.

Saya belajar menikmati setiap rasa yang tercipta.

Saya belajar menyelami setiap fase yang mendera.

 

Iya, saya belajar kecewa.

 

 

Coventry, 12 April 2017

 

 

GNiwanputri

 

 

 

 

 

 

Dengan atau Tanpa Sayap

Sebelum hari ini berakhir, saya memaksakan diri menulis kisah ini.

img-20161119-wa0046
Menggenapi Usia

Bagi saya, ulang tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa, tapi di tanggal ini saya seringkali, meskipun tidak selalu, melakukan check point kehidupan. Terkadang isi blog saya berselang satu tahun karena kemalasan saya menulis selain di bulan November.

 

Saya terlahir sebagai Scorpio. Sedikit banyak saya meyakini kepribadian berdasarkan zodiak. Selain itu, saya juga terlahir sebagai anak bungsu selama 9 tahun, namun kemudian berubah menjadi anak tengah hingga kini. Iya, jadi saya beranjak dewasa sebagai anak tengah, hingga kemudian saya menjadi ENFJ-A dalam menggenapi usia saat ini.

 

Sambil mendengarkan streaming radio Indonesia, saya menulis ini di meja belajar kamar yang sudah saya tempati selama hampir 2 bulan ini. Where the magic happen, kamar ini menjadi saksi kerja rodi saya semalam suntuk untuk menyelesaikan tulisan 4000 kata, tugas pertama sebagai mahasiswa. Menjadi mahasiswa lagi adalah keputusan penting yang saya ambil di tahun ini. Setelah empat tahun lebih saya menjadi penyumbang kepadatan penduduk Jakarta, saya akhirnya dengan lega dapat mengirim email “today is my last day” ke teman-teman kantor.

 

Selalu lucu rasanya ketika saya mengingat kembali impian dangkal selepas kuliah sarjana dulu. Saya bermimpi, jika menikah nanti, saya ingin menemani suami kuliah ke luar negeri. Bukan, bukan saya yang kuliah, saya cukup ikut untuk menjalankan tugas seorang istri. Ternyata memang Allah selalu punya rencana yang jauh lebih baik, saya sampai saat ini tidak dipertemukan dengan suami idaman tersebut. Allah menyiapkan diri saya untuk sesuatu yang lebih besar, saya diberikan jalan untuk berangkat ke luar negeri, tetapi dalam peran sebagai mahasiswa.

 

Di sinilah saya sekarang, sebuah kota kecil yang berada di Inggris. Kota yang berjarak 14.741 km dari Ibukota Negara Indonesia. Kota yang bernama Coventry. Tidak pernah dengar kota ini sebelumnya? Wajar, saya juga baru mendengar kota ini sekitar awal Agustus lalu. November tahun lalu saya sudah membayangkan akan merayakan ulang tahun berikutnya di Inggris, tapi tentunya bukan di Coventry. Singkat cerita, saat ini saya mengambil International Technology Management di University of Warwick. Kampus saya ini berlokasi di kota Coventry yang notabene hanya berjarak 1 jam perjalanan kereta dari London dan 15 menit perjalanan dengan taksi dari Birmingham. Kisah di balik perjalanan panjang saya menuju Warwick akan saya bagikan dalam tulisan selanjutnya.

 

Dari dangkalnya impian hingga bergesernya harapan, saya belajar. Saya belajar bahwa terbang meraih mimpi dengan atau pun tanpa sayap bukan perkara penting. Bagaimana cara kita terbang dengan kondisi yang ada, itulah pembeda yang menentukan apakah kita akan sampai dengan selamat di tujuan atau tidak. Setiap perjalanan takkan pernah sama, begitu pula cara kita melaluinya.

 

Maka tentukan tujuan, kemudian terbanglah tinggi, dengan atau tanpa sayap. Nikmati setiap jeda perjalanan dan mendaratlah perlahan dengan penuh kepastian.

 

 

Coventry, 19 November 2016

 

 

Ginar Santika Niwanputri

“To keep your balance, you must keep moving”

Hi, this was my farewell email on September 9, 2016. I believe this is worth to be kept as memory treasure. *grin*

 


 

Dear Friend,

As many of you probably know, today is my last day. But before I leave, I wanted to take this opportunity to let you know what a great and distinct pleasure it has been to type “Today is my last day”. I knew all along that this day would come, still, writing out this mail makes a butterfly in my stomach. The company and especially the team had become kind of a second family to me and the thought of leaving it makes me emotional.

Right since the day I put in my resignation, I tried to take out some time every day to reflect on how my time here at Indika Energy has affected me, my life, my personality. I’ve come to the conclusion that my time here has enriched me as a person and a professional and I consider myself lucky to have taken up the first “nine to five” job of my life at Indika Energy and more so to have been assigned to the team.

Sweet memories have always been mostly during the following phases, and you are a part of the mail because I have had at least one of the below memories with you guys.

1. Lunch time and laughter sessions!

2. All day long meetings

3. Choreographing and dancing in flash mobs

4. Uncountable wefie sessions

5. Toilet secret chats

6. Any random, yet silly moment

But (cliché alert) there comes a time when one has to realign priorities and move ahead. It has been a tough deal, but a conscious one. I am quite excited to step in a challenging phase in my life, however need not to say, what I am leaving behind is also precious.

I wish you all the very best for life. I’ll really miss each one of you hence I am gonna be around. 🙂

Signing Off,

Ginar Santika Niwanputri

[email protected]

“To keep your balance, you must keep moving”

 

Dua Linang

Sad_Love_Quotes_believe-cry-quotes-sad

Siang ini air mata saya jatuh untuk hal sepele yang tidak berdasar. Lalu malam ini saya tak kuasa menahan tetes air mata saat mendengar kisah pegiat daerah dalam memperjuangkan literasi untuk semua kalangan usia.

Sungguh dua linang yang berbeda. Saya rindu linang hadir dengan cara yang memperkaya rasa. Saatnya perlahan belajar meninggalkan linang yang tak perlu pun tak tentu.

Mari simpan air mata dalam ruang berharga yang tak kasat mata.
Karena ia hanya pantas keluar untuk sesuatu yang menyehatkan jiwa.

 

Jakarta, 11 Mei 2016

Inay

 

 

Antara Kasur dan Kubur

 

Hampir tiap pagi dua roda berputar teratur membawa saya menjemput segenggam berlian keberkahan. Pagi ini abang ojek saya arahkan melewati Casablanca. Saya terbiasa memberi gambaran kasar jalan yang akan dilalui, kemudian saya biarkan sang pengemudi menerjemahkannya ke dalam belokan kiri dan kanan sesuai seleranya.

 

Saya memberi ruang yang sama untuk saya dan dia dalam menentukan jalan yang akan kami lalui. Mungkin sebagian orang tidak pernah memikirkan hal ini, memilih jalan saja harus sama porsinya. Ada ketenangan yang saya dapatkan dengan cara ini, ketika kedua pihak memiliki andil yang setara untuk mencapai satu tujuan yang sama. Ya, Anda boleh heran atau geleng-geleng kepala, tolong diterima dengan lapang dada ya kelakukan ajaib saya ini.

 

Dalam jalur Casablanca, banyak pilihan jalan yang dapat kami lalui. Kali ini jalan pintas yang dipilih, sebuah jalan yang membuat hati saya selalu berkecambuk ketika melaluinya. Ada ragu dan gelisah dalam setiap putaran rodanya. Saya menghela napas panjang, jalan ini sebenarnya tak pantas untuk dilewati kendaraan bermotor, namun setiap pagi dan malam ternyata tak pernah ada hentinya. Tempat Pemakaman Umum.

 

Pikiran saya berlompatan dari satu batu nisan ke batu yang lain. Suatu hari nanti ada nama Ginar Santika Niwanputri tertulis di sebuah batu atau mungkin kayu. Tubuh ini akan terbaring tak berdaya di bawahnya, mengubah jati dirinya menjadi sebuah jasad. Dan kemanakah perginya jiwa yang melekat sebelumnya? Menunggu penghitungan nilai atas apa yang telah dilakukan oleh setiap sel di dalam tubuhnya.

 

Saat batu nisan itu dipasang, sebagai apakah saya akan dikenang?

 

Ah sesungguhnya itu hanyalah sebuah hijrah yang sederhana. Kita lahir di atas kasur, kemudian kita mati di tanah kubur. Perpindahan tempat istirahat dari sementara menuju tak lekang masa. Perubahan dari dunia fana ke alam baka.

 

Bagaimana sebenarnya tugas di dunia tak perlu berlama-lama. Hanya sekejap saja seperti waktu yang tersisa antara kumandang adzan (di telinga) dan didirikannya shalat (untuk jasad kita).

 

Antara Adzan dan Shalat

 

Sungguh sebenarnya hidup itu sangat sederhana, cukup memberi makna dalam setiap jeda.

Sebuah refleksi dalam usia yang digenapkan
Sebentuk curahan syukur untuk jantung yang didetakkan
Secarik catatan atas semua pelajaran hidup yang dianugerahkan

 

Jakarta, (19+1) November 2015
~Inay

Macan TBB

image

Suatu pagi di sela-sela pepohonan.

Ditemani suara gemericik pertemuan ban motor dan genangan.

Bersama semerbak harum karet dan udara pagi yang bergantian.

Loncatan pikiran beserta ketakutan akan masa depan mengiringi setiap perjalanan.

Bertahun-tahun ke depan akankah tetap bertahan perjuangan demi perjuangan?

Hampir genap lima tahun, tongkat kehormatan telah di-estafet-kan.

Setelah ribuan derai tangis dan jutaan gelak tawa, hari ini pun hadir sebagai sebuah jawaban dari kegelisahan.

Bentuk nyata dari bayangan semu cita-cita mulia bersama perlahan bermunculan.

Untuk semua keluarga besar Macan TBB.

Kita memang tak punya laut ataupun gunung, tapi bersyukurlah bahwa kita menemukan keluarga baru yang jauh lebih indah daripada pemandangan.

Semoga auman kita semakin bermanfaat bagi dunia dan tak hanya menjadi kenangan. 💘💘💘

#5TahunMacanTBB
#baper
#nangisdipojokan

Rasa Tanpa Definisi

Jatuh cinta itu biasa saja.
Iya, kata Efek Rumah Kaca.

Mungkin cukuplah kau sebut itu sebuah rasa yang belum terdefinisi. Tak usahlah terburu-buru menyatakan bahwa itu cinta.
Perlahan rasa akan menemukan definisinya sendiri. Dia akan menguat jika memang ia cikal bakal dari cinta. Jika tidak, ah sudahlah, mungkin itu tak lebih dari hasrat sesaat.

Hatiku masih perlu belajar untuk mengenali rasa yang singgah, sekejap atau pun lama. Langkah demi langkah menentukan ia akan kemana dan menjadi apa. Biarlah ia menjelma sebagai apa yang seharusnya, tanpa perlu ada paksa atau dusta.

Rasa yang abadi akan menemukan jalannya sendiri. Termasuk juga rasa yang sudah pergi, apakah dia akan menemukan jalan untuk kembali? Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Satu yang pasti kita perlu menikmati setiap momen yang terjadi, dalam senyuman dan kebahagiaan yang hakiki.

Sajak Dua Tepian

image

Aku berdiri di antara batas dua tepian.
Masa lalu dan masa depan.

Aku termenung di antara batas dua tepian.
Harapan dan kenyataan.

Aku menghela di antara batas dua tepian.
Impian dan kenangan.

Aku menerawang di antara batas dua tepian.
Ketenangan dan kegundahan.

Aku terusik di antara batas dua tepian.
Pertanyaan dan jawaban.

Aku terpaku di antara batas dua tepian.
Keikhlasan dan kedengkian.

Aku mematung di antara batas dua tepian.
Keraguan dan keniscayaan.

Aku tersenyum di antara batas dua tepian.
Doa dan ampunan.