Gadis Kecil Itu Menangis

23 September 2011

 

Dalam cerita hidup saya, baru kali ini saya membuat orang menangis, menangis bukan karena ga dibeliin mainan, menangis bukan karena dihukum ga ngerjain pr, menangis bukan karena jatuh kesandung meja. Bukan, bukan itu.

 

Pagi ini, sebuah sobekan kertas sampai di meja guru ruang kelas 4. jadwal saya mengajar bahasa indonesia di kelas 4. kelas dengan jumlah murid 32, tapi ributnya minta ampun, entah kenapa. Beberapa kali kemalasan melanda ketika harus menghadapi kelas ini, beberapa kali pula waktu di kelas ini saya habiskan untuk berkoar-koar ngurusin anak yang ga ngerjain pr. Mungkin menulis itu sulit untuk mereka, sama halnya yang saya rasakan dulu. Mending dikasih soal matematik berjuta-juta daripada harus membuat tulisan atau karangan. Saya dulu memang penggila Matematika (sampai sekarang sih) dan cukup tidak menyukai (kalau ga boleh dibilang membenci) Bahasa Indonesia. Di semester ini, ujian datang, guru kelas 4 menawarkan (sembari memutuskan, karena tak ada pilihan lain) mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk saya ajar di kelasnya. Akhirnya dengan hati lapang saya terima tawaran tersebut. Menantang sekali, sungguh, bagaimana membuat mereka mau menulis, memahami, dan berbicara.

 

Kembali ke kejadian tadi pagi. Saya sudah duduk di meja guru, baru bersiap membereskan taplak meja dan buku. “Bu, tadi Kur ngomong saru-saru* loh Bu!”, beberapa anak berteriak mengadu. Mengadu ini memang menjadi kebiasaan semua anak ya? Dikit-dikit lapor itu, dikit-dikit  lapor anu, yang pokoknya ada aja sesuatu yang diadukan. Kemudian satu anak bergerak ke meja saya dan menaruh sobekan kertas tadi. Saya buka kertas kecil yang sudah tak keruan bentuknya itu, di situ tertulis kata doggy** dalam bahasa Jawa. Kemudian saya menarik napas panjang.

 

Saya putuskan pagi ini meracau dulu sebentar sebelum memulai pelajaran. Racauan dimulai dengan amanah kesempurnaan anggota tubuh kita. Bagaimana cara kita menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah. Bagaimana nanti di alam kubur semua bagian tubuh kita akan berbicara, bersaksi atas segala apa yang telah dilakukan di dunia (ini hasil pemahaman dari lagu Chrisye). Hidup di dunia ini sungguh tidak jauh lebih lama dari kehidupan kita selanjutnya, sangat singkat malah. Istilahnya kita hanya numpang lewat di dunia ini, maka manfaatkanlah waktu yang kita punya di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal tidak memanfaatkan waktu dengan baik (ini #notetomyself banget!).

 

Tiba-tiba racauan saya merembet ke bahasan orang tua. Saya tanya mereka tentang baligh, ternyata mereka belum mengerti apa itu baligh. Kelas 4, meskipun masuk ke dalam golongan kelas tinggi, ternyata masih anak-anak banget, anak kecil yang belum paham banyak tentang dunia dan masih kental sifat kekanak-kanakannya. Mereka belum tahu baligh, saya jelaskan secukupnya, dengan bahasa yang (semoga) mereka bisa mengerti. Saya bilang kalau mereka belum baligh, semua yang mereka lakukan, pahala serta dosanya adalah untuk orang tua masing-masing. Sebetulnya saya ga tahu pasti kebenaran info ini, yang saya pernah denger malah kalau wanita yang belum menikah, perbuatan dosa, terutama yang berkaitan dengan zinah, akan dibebankan pada ayah kita, mohon dikoreksi ya jika salah. Saya bilang pada mereka, jangan sampai mereka menyesal telah melawan orang tua, selagi orang tua kita masih ada, kita harus menuruti perintah mereka (jika perintahnya baik). Kalau mereka pintar dan hebat tentunya yang bangga orang tua mereka juga, begitu pula kalau mereka nakal, yang sedih dan malu kan orang tua juga.

 

Di saat saya masih meracau panjang lebar, ternyata dia, gadis kecil itu, tertunduk dan meneteskan air mata. Saya pun berhenti sesaat dan berkata “Loh kok kamu nangis?”. Wajahnya masih berlinangan air mata. Setelah diam sesaat, akhirnya saya cuma bisa tersenyum sambil bilang “Maaf ya pagi-pagi gini Ibu udah bikin kamu nangis”. Rasanya berat untuk melanjutkan racauan ini karena tiba-tiba saja mata saya ikut-ikutan terasa berat. Melihat mata-mata mereka yang lain, meskipun tak meneteskan air mata, namun mata -mata bening itu sungguh menyiratkan sesuatu. Kening-kening berkerut di pagi itu, sungguh membuat saya yakin mereka memikirkan racauan saya pagi ini. Keheningan yang jarang saya dapatkan di kelas 4, entah kenapa kali ini kelas ini begitu tenang dan khusyuk.

 

Racauan ini juga membuat saya ingat mama papa, ah mereka, tentunya mereka menanti saya untuk pulang. Sempat terpikir apakah saya lebih sering membuat mereka bangga atau membuat mereka malu?

Dan inilah yang saya tidak dapatkan dari tempat lain. Mengajar adalah bercermin. Mengajar adalah mengenal diri. Mengajar adalah introspeksi. Mengajar adalah berbagi, untuk siapa? Untuk aku dan mereka. Untuk semua.

 

Kalimat pamungkas dari Pak Anies yang tak terlupakan untuk saya.

“Mereka membuktikan bahwa republik ini tidak berubah, ibu-ibu di republik ini tetap melahirkan pejuang, ibu kita tetap melahirkan anak-anak promotor kemajuan.”

 

 

BLJ, 26 September 2011

Keep busy, stay healthy!

😉

 

Glossary:

*Saru (Bahasa Jawa) artinya kasar.

**Doggy dalam bahasa Jawa tahu sendiri lah ya 😛

One Reply to “Gadis Kecil Itu Menangis”

Leave a Reply to Agust Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *