Kelas itu, begitu menantang, kalau memang tak ingin dibilang nakal dan menyebalkan.
Hanya berisi 31 anak saja, tapi mereka semua ingin bicara, mereka semua ingin didengar.
Tentunya tanpa usaha yang keras untuk mendengarkan. Temannya bicara tak didengar, gurunya berteriak tak digubris. Rasanya energi saya terkuras habis setiap masuk kelas ini.
Kelas 4.
Apa mereka terlalu muda untuk mengerti bagaimana cara mendapatkan pensil ketika pensil mereka tertinggal di rumah.
Apa mereka terlalu muda untuk mencari sendiri rautan untuk pensil yang patah.
Apa mereka terlalu muda untuk bisa membagi tugas siapa yang membawa gunting atau lem di kelompok.
Apa mereka terlalu muda untuk mengerjakan tugas mereka tanpa mengganggu yang lain.
Apa mereka terlalu muda untuk mengerti kalau guru mereka sedang marah.
Jawabannya iya, mereka masih muda.
Entah kenapa hari ini kesabaran saya begitu diuji.
Jujur, saya menyesal sekali telah marah di kelas hari ini.
Kalau ada pepatah mengatakan marah itu bikin cepet tua, saya setuju banget.
Ternyata malam ini pertama kali dalam hidup saya ketika sepotong ayam membuat saya terpana.
Malam ini saya terpana melihat meja makan, ada ayam sejenis KFC! Meskipun mungkin hanya juniornya KFC, tapi ini ayam! Perut saya yang kelaparan sehabis mencuci di sore hari semakin bergejolak hebat. Ayam, meskipun di sini ayam hidup banyak berkeliaran, tapi ayam sebagai teman nasi di meja makan merupakan satu hal yang luar biasa.
Mau potong ayam!
Biasanya orang sini bilang begitu kalau ada sesuatu yang spesial, misalnya syukuran khitanan atau sekedar syukuran kecil dapat rezeki lebih. Makanan yang biasa ada di meja makan sangat cocok untuk menu vegetarian, iya di sini sayuran selalu ada. Saya ingat dulu saya paling malas makan sayur, saya lebih memilih makan lauk saja, tanpa menyentuh sayuran. Menu makan di sini selalu dihiasi cabai, masalahnya bukan cabai merah atau cabai hijau, tapi cabai rawit, dan bukan hanya 3 atau 5, cabai rawitnya bisa lebih dari 10. Saya bukan orang yang tahan makan pedas, tapi lagi-lagi ketika kamu hanya punya 1 pilihan maka belajarlah menerimanya dengan ikhlas. Di sini saya belajar mengelola ego saya, ketika saya lapar, ya saya harus makan jika tidak ingin pingsan di tengah malam. Tak ada pilihan, menu apapun itu, itulah rezeki saya, dinikmati dan disyukuri.
Saya termasuk orang yang mudah bosan dengan makanan, saya bisa saja bilang kenyang dan berhenti makan, tapi begitu ada pilihan menu makan yang lain, saya bisa dengan mudah memasukkan makanan itu ke perut. Jadi saya hanya jenuh dengan rasa yang itu-itu saja, kemudian tergoda dengan rasa baru yang menarik hati.
Di sini, sarapan pagi, makan siang, dan makan malam ditemani dengan menu yang sama. Lagi-lagi perut dan mulut saya belajar bertoleransi, hati saya belajar bersyukur, alhamdulillah saya tetap makan sehari 3 kali. Dulu saya selalu mengeluh ketika menemukan menu makan malam sama dengan menu makan tadi siang. Saya seenaknya saja bilang “ah, ini lagi, males makan ah”, lalu dengan sabar orangtua saya pun mewujudkan keinginan anaknya yang egois ini. Membeli makan di luar, menunya apa saja sesuai dengan keinginan anaknya yang manja. Ternyata hidup yang terlalu mudah terkadang memang membuat manusia berlaku seenaknya ya.
Ga ada apa-apa loh!
Pernah di suatu siang, saya sedang berkunjung ke rumah Selfi di desa sebelah. Siang itu Ibu menyuruh kami makan, Ibu bilang “Ga ada apa-apa loh gin, makan pake kerupuk aja ya…”. Saya cuma tersenyum dan bilang “Ga apa-apa Bu!”. Kemudian saya tertegun melihat 1 bungkus kerupuk dan 1 bakul nasi di lemari makanan, itu saja. Saya kaget ternyata memang lauk siang itu hanya kerupuk, itu pun Ibu sengaja beli dulu kerupuk dari warung, khusus untuk makan siang kami berdua. Hati saya berdesir hebat, ternyata memang bukan basa-basi, memang “ga ada apa-apa” dalam arti sesungguhnya. Saya ingat betapa sering saya menyisakan makanan, betapa mudah saya mengeluh ga suka menu makanan di rumah, saya sungguh jauh dari rasa syukur.
Saya pernah dengar ceramah tentang rezeki, ternyata rezeki kita itu sebenarnya adalah sesuatu yang sudah masuk ke perut kita, misalnya kita pakai uang kita untuk beli martabak, toh yang kita makan itu hanya 2 potong, sisanya dimakan oleh orang lain, betul? Jadi ya memang benar, rezeki kita itu adalah yang benar-benar masuk ke perut kita. Dan benar sekali di dalam harta yang kita punya memang selau ada rezeki orang lain di dalamnya.
Bersyukurlah selagi ingat dan sadarlah ketika lupa.
Dalam cerita hidup saya, baru kali ini saya membuat orang menangis, menangis bukan karena ga dibeliin mainan, menangis bukan karena dihukum ga ngerjain pr, menangis bukan karena jatuh kesandung meja. Bukan, bukan itu.
Pagi ini, sebuah sobekan kertas sampai di meja guru ruang kelas 4. jadwal saya mengajar bahasa indonesia di kelas 4. kelas dengan jumlah murid 32, tapi ributnya minta ampun, entah kenapa. Beberapa kali kemalasan melanda ketika harus menghadapi kelas ini, beberapa kali pula waktu di kelas ini saya habiskan untuk berkoar-koar ngurusin anak yang ga ngerjain pr. Mungkin menulis itu sulit untuk mereka, sama halnya yang saya rasakan dulu. Mending dikasih soal matematik berjuta-juta daripada harus membuat tulisan atau karangan. Saya dulu memang penggila Matematika (sampai sekarang sih) dan cukup tidak menyukai (kalau ga boleh dibilang membenci) Bahasa Indonesia. Di semester ini, ujian datang, guru kelas 4 menawarkan (sembari memutuskan, karena tak ada pilihan lain) mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk saya ajar di kelasnya. Akhirnya dengan hati lapang saya terima tawaran tersebut. Menantang sekali, sungguh, bagaimana membuat mereka mau menulis, memahami, dan berbicara.
Kembali ke kejadian tadi pagi. Saya sudah duduk di meja guru, baru bersiap membereskan taplak meja dan buku. “Bu, tadi Kur ngomong saru-saru* loh Bu!”, beberapa anak berteriak mengadu. Mengadu ini memang menjadi kebiasaan semua anak ya? Dikit-dikit lapor itu, dikit-dikit lapor anu, yang pokoknya ada aja sesuatu yang diadukan. Kemudian satu anak bergerak ke meja saya dan menaruh sobekan kertas tadi. Saya buka kertas kecil yang sudah tak keruan bentuknya itu, di situ tertulis kata doggy** dalam bahasa Jawa. Kemudian saya menarik napas panjang.
Saya putuskan pagi ini meracau dulu sebentar sebelum memulai pelajaran. Racauan dimulai dengan amanah kesempurnaan anggota tubuh kita. Bagaimana cara kita menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah. Bagaimana nanti di alam kubur semua bagian tubuh kita akan berbicara, bersaksi atas segala apa yang telah dilakukan di dunia (ini hasil pemahaman dari lagu Chrisye). Hidup di dunia ini sungguh tidak jauh lebih lama dari kehidupan kita selanjutnya, sangat singkat malah. Istilahnya kita hanya numpang lewat di dunia ini, maka manfaatkanlah waktu yang kita punya di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal tidak memanfaatkan waktu dengan baik (ini #notetomyself banget!).
Tiba-tiba racauan saya merembet ke bahasan orang tua. Saya tanya mereka tentang baligh, ternyata mereka belum mengerti apa itu baligh. Kelas 4, meskipun masuk ke dalam golongan kelas tinggi, ternyata masih anak-anak banget, anak kecil yang belum paham banyak tentang dunia dan masih kental sifat kekanak-kanakannya. Mereka belum tahu baligh, saya jelaskan secukupnya, dengan bahasa yang (semoga) mereka bisa mengerti. Saya bilang kalau mereka belum baligh, semua yang mereka lakukan, pahala serta dosanya adalah untuk orang tua masing-masing. Sebetulnya saya ga tahu pasti kebenaran info ini, yang saya pernah denger malah kalau wanita yang belum menikah, perbuatan dosa, terutama yang berkaitan dengan zinah, akan dibebankan pada ayah kita, mohon dikoreksi ya jika salah. Saya bilang pada mereka, jangan sampai mereka menyesal telah melawan orang tua, selagi orang tua kita masih ada, kita harus menuruti perintah mereka (jika perintahnya baik). Kalau mereka pintar dan hebat tentunya yang bangga orang tua mereka juga, begitu pula kalau mereka nakal, yang sedih dan malu kan orang tua juga.
Di saat saya masih meracau panjang lebar, ternyata dia, gadis kecil itu, tertunduk dan meneteskan air mata. Saya pun berhenti sesaat dan berkata “Loh kok kamu nangis?”. Wajahnya masih berlinangan air mata. Setelah diam sesaat, akhirnya saya cuma bisa tersenyum sambil bilang “Maaf ya pagi-pagi gini Ibu udah bikin kamu nangis”. Rasanya berat untuk melanjutkan racauan ini karena tiba-tiba saja mata saya ikut-ikutan terasa berat. Melihat mata-mata mereka yang lain, meskipun tak meneteskan air mata, namun mata -mata bening itu sungguh menyiratkan sesuatu. Kening-kening berkerut di pagi itu, sungguh membuat saya yakin mereka memikirkan racauan saya pagi ini. Keheningan yang jarang saya dapatkan di kelas 4, entah kenapa kali ini kelas ini begitu tenang dan khusyuk.
Racauan ini juga membuat saya ingat mama papa, ah mereka, tentunya mereka menanti saya untuk pulang. Sempat terpikir apakah saya lebih sering membuat mereka bangga atau membuat mereka malu?
Dan inilah yang saya tidak dapatkan dari tempat lain. Mengajar adalah bercermin. Mengajar adalah mengenal diri. Mengajar adalah introspeksi. Mengajar adalah berbagi, untuk siapa? Untuk aku dan mereka. Untuk semua.
Kalimat pamungkas dari Pak Anies yang tak terlupakan untuk saya.
“Mereka membuktikan bahwa republik ini tidak berubah, ibu-ibu di republik ini tetap melahirkan pejuang, ibu kita tetap melahirkan anak-anak promotor kemajuan.”
Hari ini setelah istirahat adalah jadwal saya mengajar IPA kelas 5. Beberapa alat dan bahan sudah saya siapkan untuk percobaan tentang bumi, mulai dari kertas plano untuk menggambar, plastisin untuk membuat lempengan bumi, gunting, dan lain-lain. Dari malam saya sudah berpikir keras untuk rencana percobaan hari ini.
Saya masuk kelas, melangkah dan tersenyum, rasanya sudah lama saya tidak masuk kelas 5, padahal baru seminggu kemarin saya tidak masuk karena ada retraining, tapi entah kenapa rasanya beda, melihat wajah mereka, suara Andre yang tidak pernah berhenti ngoceh, Oji dengan gaya khasnya, Leo dengan tingkah laku aneh nan bandelnya, yap, I miss them, haha.
Pelajaran saya awali dengan membahas latihan soal yang saya berikan saat saya pergi ke Karang minggu lalu. Bagian I, pilihan ganda, semua aman terkendali. Masuk ke bagian II, isian, ketika ada jawaban yang berbeda, hampir semua anak bertanya, “kalau jawabannya ini gimana Bu?” semua mau bertanya, semua mau bicara. Sampai akhirnya saya pusing sendiri, banyak jawaban yang sudah jelas salahnya, eh, masih ditanya juga. Setelah bagian II selesai diperiksa, bagian III akhirnya tidak diperiksa bersama, biarlah saya mengalah memeriksa sendiri, daripada pusing, semua bertanya.
Kemudian saya ingat materi Bu Wei saat retraining, tentang kesepakatan kelas. Dan siang itu, 1 jam terakhir sebelum pulang, saya ajak anak-anak kelas 5 berpikir dan berdiskusi tentang kesepakatan yang harus dijalankan ketika di kelas. Ada 13 butir pasal yang disepakati bersama, dituliskan di kertas plano dengan spidol merah.
Kesepakatan itu bernama JANJI SISWA.
Biarlah rencana percobaan yang sudah disusun itu tertunda, memang ada HARGA yang harus DIBAYAR, ada WAKTU yang harus DIKORBANKAN.
Setiap tempat punya tanda, misalnya tulisan selamat datang di Bandar Lampung, atau batas antara TBB dan TB Induk, atau lambang tapis yang ada dimana-mana. Setiap jalan punya tanda, seperti rambu lalu lintas, misalnya S dicoret artinya dilarang stop atau berhenti. Jika lampu merah artinya berhenti dan lampu hijau artinya maju, itulah tanda.
Dosen saya, Pak Husni, pernah bercerita tentang tanda, ternyata tanda itu ada kuliahnya sendiri, tanda yang tampak kecil namun ternyata kompleks dan sangat penting dalam kehidupan kita. Semua sisi kehidupan kita terdiri dari tanda, bahkan huruf atau angka itu pun adalah tanda, sesuatu yang abstrak, sepaerti kata Bu Wei, trainer dari I-TEACH. Kita menyebut satuan jumlah, contoh ada sebuah benda berjumlah satu, nah 1 itu sendiri adalah tanda yang disepakati bersama. 1 itu angka yang melambangkan jumlah. Pada zaman prasejarah, sebelum mengenal huruf dan angka, manusia menggunakan gambar untuk berkomunikasi.
Itulah tanda, yang selalu dibutuhkan manusia untuk berinteraksi. Ketika kita ke toilet di mall, di gagang pintu biasanya ada tanda merah atau hijau, betul? Atau bisa juga tanda isi atau kosong. Nah sekarang bagaimana untuk toilet di rumah? Untuk kamar mandi yang ada kuncinya sebetulnya sih aman-aman saja kalau tidak ada tanda yang bisa dilihat oleh orang lain.
Nah, sekarang kita bicara di desa, masih banyak kamar mandi yang tidak ada kuncinya, sebetulnya sudah berpintu pun sudah syukur alhamdulillah. Mari kita lakukan observasi kamar mandi di rumah masing-masing PM TBB.
Dimulai dari kecamatan Way Kenanga. Di rumah saya, kamar mandi di dalam rumah dan berpintu, namun tidak berkunci. Tanda jika ada orang di dalamnya adalah sendal yang ditaruh di depan pintu. Untuk WC, letaknya di luar, berpintu setengah, tandanya adalah handuk atau celana yang ditaruh di atas pintu sehingga dapat terlihat dari luar.
Di rumah Isal yang lama, kamar mandi dan WC di luar rumah, berpintu dan tidak berkunci, tandanya sama seperti di tempat saya, sendal di depan pintu. Nah di rumahnya yang baru, kamar mandi di dalam rumah, berpintu, tanpa kunci, untuk tandanya sampai sekarang saya belum bisa menemukan, soalnya kalau masuk kamar mandi sendalnya dipakai, mungkin cukup dengan suara air dan berdehem. WCnya belum pernah coba. 😛
Di rumah Asril yang lama, saya baru sekali ke kamar mandinya, yang pasti letaknya di luar dan berpintu, hmm, belum bisa diputuskan tandanya. Untuk rumah barunya, saya belum pernah ke sana.
Di rumah Selfi, kamar mandi dan WC di luar, berpintu dan berkunci. Safe!
Di rumah Yuni yang baru (rumah yang lama rasanya saya belum pernah mencicipi kamar mandinya hehe), kamar mandi di luar, tidak berpintu, dikelilingi tembok dengan tinggi sekitar 1 meter, tandanya handuk ditaruh di tembok dan suara air, atau bisa juga teman yang berjaga di sekitar kamar mandi, hihi. Untuk WC, di luar, berpintu dan berkunci, tetapi pembatasnya cukup rendah, agak riskan jika tidak diberi tanda, maka taruhlah handuk di atas pintu atau pembatasnya.
Way Kenanga sudah, sekarang kita bergerak ke kecamatan sebelah, Gunung Agung.
Di rumah Rusdi, kamar mandi dan WC di dalam, tidak berkunci, tandanya adalah pintu yang tertutup dan suara air.
Di rumah Asti dan Nila, kamar mandi dan WC di dalam, berpintu, dan berkunci. Safe!
Di rumah Hasan, kamar mandi mirip seperti Yuni, mungkin tandanya sama, dengan handuk yang ditaruh di pintu. WCnya belum pernah cicip. 😛
Nah satu-satunya rumah yang belum pernah saya kunjungi adalah rumahnya Riza, nanti kalau saya sudah main dan mencicipi kamar mandi dan WCnya, insyaAllah saya update ya. 🙂
Ok, sekarang yang menjadi masalah adalah sepulang dari retraining di Karang (orang sini menyebut Bandar Lampung sebagai Karang, berasal dari Tanjung Karang, nama daerah di pusat kota Bandar Lampung), bagian belakang rumah saya diubah, lantai dapur, merupakan jalan menuju kamar mandi, dilapis semen, yang tadinya kita harus pakai sendal kalau mau ke dpaur, sekarang tidak lagi. Lalu apakah masalahnya? Ya, tandanya hilang. Sendal sebagai penanda ada orang di kamar mandi sudah tidak bisa dipakai lagi, sampai saat belum ada konvensi terbaru mengenai tanda kamar mandi, sejauh ini sih suara kran air dan suara keciprak-kecipruk, ditambah suara berdehem atau batuk secukupnya bila perlu.
Saya duduk tepat di tengah bis. Di kursi paling belakang. Dari kursi ini saya bisa melihat jalan yang dilalui. Posisi yang asik, bisa jadi pilihan ke-2 posisi selain kursi depan di samping supir. Saya suka sekali memandangi jalan. Entahlah. Ada kepuasan tersendiri.
Bis kecil ini membawa saya pergi, berharap semua kegalauan dan tantangan (nama lain dari masalah) dapat pergi juga seiring perjalanan ini. Sudah hampir 6 jam bis ini bergerak. Bis berwarna biru, kecil, hanya bisa membawa sekitar 25 orang. Sering berhenti di tengah jalan gara-gara ada penumpang yang mabuk perjalanan, seringkali dia minta minggir untuk muntah.
Siapa yang kira saya akan berpetualang ke kota ini. Kerlip lampu, pertokoan, mobil lalu-lalang di malam hari. Palembang.