Rasa Tanpa Definisi

Jatuh cinta itu biasa saja.
Iya, kata Efek Rumah Kaca.

Mungkin cukuplah kau sebut itu sebuah rasa yang belum terdefinisi. Tak usahlah terburu-buru menyatakan bahwa itu cinta.
Perlahan rasa akan menemukan definisinya sendiri. Dia akan menguat jika memang ia cikal bakal dari cinta. Jika tidak, ah sudahlah, mungkin itu tak lebih dari hasrat sesaat.

Hatiku masih perlu belajar untuk mengenali rasa yang singgah, sekejap atau pun lama. Langkah demi langkah menentukan ia akan kemana dan menjadi apa. Biarlah ia menjelma sebagai apa yang seharusnya, tanpa perlu ada paksa atau dusta.

Rasa yang abadi akan menemukan jalannya sendiri. Termasuk juga rasa yang sudah pergi, apakah dia akan menemukan jalan untuk kembali? Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Satu yang pasti kita perlu menikmati setiap momen yang terjadi, dalam senyuman dan kebahagiaan yang hakiki.

Sajak Dua Tepian

image

Aku berdiri di antara batas dua tepian.
Masa lalu dan masa depan.

Aku termenung di antara batas dua tepian.
Harapan dan kenyataan.

Aku menghela di antara batas dua tepian.
Impian dan kenangan.

Aku menerawang di antara batas dua tepian.
Ketenangan dan kegundahan.

Aku terusik di antara batas dua tepian.
Pertanyaan dan jawaban.

Aku terpaku di antara batas dua tepian.
Keikhlasan dan kedengkian.

Aku mematung di antara batas dua tepian.
Keraguan dan keniscayaan.

Aku tersenyum di antara batas dua tepian.
Doa dan ampunan.

Curhat buat Sahabat

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita

Telah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini ….

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri, oh, dewiku….”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Tidak lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji ….

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku….”

Wahai, Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Oleh Dee dalam Rectoverso

Menunggu Angka

Bukankah menjadi dewasa tak perlu menunggu angka
Tak ayalnya menjadi tua
Kenikmatan tak terhingga untuk dapat melewatinya

Tak ada yang berbeda
Berganti hari berarti bertambah usia
Meski kadang tak seiring dengan kematangan yang ada

Sepenggal puisi menjadi pilihan utama
Teman bercerita yang tak pernah berdusta
Juga tanpa peduli seiya sekata ataupun tidak

Sungguh hanya 24 jam yang sama
Tak ada pesta ataupun euforia
Tanpa nyanyian tanpa lilin tanpa tiupan

Sebuah pengulangan yang nyata
Pengingat bahwa waktu sudah terpakai cukup lama
Sementara hanya ada sisa detik yang berharga

Berlomba mengejar gelar dunia
Tak habis berkejaran memuaskan dahaga
Terlena nafsu yang bergerak tanpa duga

Memang manusia berlalu dengan sementara
Syukur tak berbatas atas perpanjangan masa
Izinkan yang tersisa menjadi bekal yang penuh asa

Jakarta, 19 November 2013

~Inay

Hanya Jarak

Jarak, bukankah hanya rangkaian jejak yang perlu digenapi setiap jengkalnya

Jarak, bukankah hanya irama tarikan napas yang saling mengisi dengan hembusannya

Jarak, bukankah hanya adu pandang dua indra dengan setitik bayang di tujuannya

Jarak, bukankah hanya sebentuk ruang dan waktu dengan tempo tanpa jeda bersamanya

Jarak, bukankah hanya sebuah besaran yang sebanding dengan kecepatan dan detik yang dilaluinya

Hanya jarak, apakah bisa memisahkan atom yang berada dalam satu frekuensi yang sama?

Suatu pagi, sendiri dalam keramaian Jakarta

Inay

Menunggu Senja

Aku menunggu senja
Di tepian batas waktu kelabu
Seperti warna sungai dan langit ketika bertemu

Aku menunggu senja
Di antara desiran nafas berpadu
Seperti angin, air, dan dedaunan berjumpa tanpa ragu

Aku menunggu senja
Di dalam ruang degup jantung berpacu
Seperti mesin kapal bersahutan pada tempo yang satu

Aku menunggu senja
Di sela aroma hidup yang terasa rancu
Seperti wangi tanah dan matahari yang tertunduk malu

Aku menunggu senja
Di balkon sepi dalam kokohnya sebuah rumah kayu
Seperti senja yang pasti berlalu bagi siapapun yang setia menunggu

Tepian Barito, 13 Okt 2013

Inay

image
Tepian Barito

Puisi Tanpa Tapi

Aku ingin berlari tapi
Tapi tak tahu mau kemana
Aku ingin pergi tapi
Tapi tak tahu harus bagaimana
Aku ingin berhenti tapi
Tapi tak tahu singgah dimana

Tahukah kamu rasa seperti ini
Berputar kembali di tempat yang sama
Tanpa tahu arah dan tujuan membawa

Tahukah kamu rasa seperti ini
Bersiap dengan segala bekal yang ada
Tanpa peduli kembali atau menoleh sementara

Tahukah kamu rasa seperti ini
Bergumam sesuatu yang fana tak nyata
Tanpa menerka mimpi yang dirajut penuh asa

Ah mungkinkah sesungguhnya inginku hanya satu

Ya, aku ingin kamu tanpa tapi