Belajar Setia Pada Senja

Jakarta Dalam Senja

Ia mengawal

Dalam terang sebelum petang

Ia menjaga

Dalam surya sebelum rembulan

Ia mendiami

Dalam bising sebelum sunyi

Ia menunggu

Dalam ragu sebelum tentu

Ia menanti

Dalam sangsi sebelum pasti

Jakarta, Dalam Sebuah Senja

Inay

Terima Kasih Semesta

Siang berganti malam, tapi geliat kehidupan di sini belum terbenam. Suara riuh redam masih sayup terdengar penuh gelora.

Mungkin ini satu yang membuat saya mampu bertahan untuk terus berjalan dalam pendakian terjal tak kasat mata.

Pertemuan dengan anima yang penuh dinamika membuat lelah tak lagi punya ruang di raga. Ia menyisakan tempat yang tak dapat terisi oleh asa nan biasa.

Terima kasih Semesta.

Titik yang Tidak Saya Ketahui Sebelumnya

WhenInMonaco
WhenInMonaco

 

Lebih kurang sekitar 2 bulan yang lalu, saya termanggu. Senja sudah berganti petang, hanya sedikit mobil yang lalu-lalang. Terduduk lesu di halte bis yang biasa mengantarkan saya pergi-pulang antara rumah-kampus. Di tengah geliat sepinya Coventry, saya merasa tak memiliki lagi energi untuk sekedar menitikkan air mata. Sebuah kalimat singkat yang diucapkan pembimbing disertasi terus berputar dan berulang di kepala. Tak diucapkan dengan tajam namun isinya terasa mengiris jiwa.

 

11  Coventry        20 min

Tertulis manis di papan jadwal kedatangan bis. Saya berusaha menghimpun nafas yang masih tersisa. Saya memandangi jalanan dengan pikiran yang semrawut lagi kalut. Setelah hampir setahun saya memutuskan untuk hidup merantau jauh di negeri yang asing, ternyata malam itu saya sampai di titik terendah yang tak pernah saya siapkan sebelumnya. Saya terpaku di ambang batas kekuatan yang tak lama lagi runtuh. Ternyata memang jurang depresi itu nyata adanya, terutama bagi saya, mahasiswa yang acap kali terlihat bahagia di media sosial sembari berusaha tidak menampakkan segala kesulitan yang dihadapi.

Hitungan menit demi menit terasa begitu lambat berjalan. Kesendirian niscaya tak mempermudah untuk bangun dari keterpurukan. Tak lama saya tersadar, bahwa sesungguhnya saya tak pernah sepenuhnya sendiri. Saya punya Allah, teman yang setia menemani tanpa kompromi. Segala pikiran buruk yang sempat terbersit perlahan memudar, meski jantung masih terus kencang berdebar dan senyum masih tetap menolak untuk berpendar.

Sesampainya di rumah, ternyata kegelisahan yang terlalu membuat saya tak bisa menangis sejadi-jadinya. Saya bersimpuh di hadapan-Nya sembari memohon penjagaan dan kasih sayang dari-Nya. Seolah tak peduli lagi dengan target studi yang sempat terucap, saya hanya meminta diberikan kesempatan untuk bertahan dan kekuatan untuk kembali berjuang.

Dan inilah saya, beberapa minggu lalu. Agak sedikit gosong tapi bahagia saat masih diizinkan untuk menghirup udara dan menikmati mentari di Monte Carlo, Monaco.

 

Maka adalah benar, tiada kekuatan yang datang selain daripada Allah.

 

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…

(QS.Al Baqarah 153)

Sampai Jumpa Lagi Kejora!

Di penghujung usaha saya mendapatkan foto terbaik untuk mengabadikan Bandung malam ini, saya terduduk.

Lesu.

Betapa jerih dan payah, hanya untuk berbagi cantiknya langit yang saya lihat di loteng rumah malam ini.

Satir.

Saya bahkan hampir lupa cara menikmati langit tanpa gawai, namun mampu mengutak-atik foto dan kata di media sosial dengan lihai.

Bahana.

Gemericik air dan desir angin ternyata sedang berlomba dengan suara musik dari rumah tetangga. Sirine ambulan dan raungan motor pun seakan tak ingin ketinggalan, bergegas ikut menyumbang suara.

Sejenak.

Ternyata hanya perlu diam sekejap, sesaat dalam penat. Mencoba kembali peduli akan apa yang terjadi di sekitar, bukan di layar.

Rehat.

Seperti kehidupan, yang senyatanya perlu jeda dalam setiap tarikan napas dan hembusan. Mundur sesaat. Beristirahat dari belenggu takut dan pusaran harapan yang mendera.

Dan dalam syukur, izinkah saya berkata. Sampai jumpa lagi kejora!

Bandung, 14 Juli 2017

Inay

Sembilu Rindu

Setiap langkah kaki yang diayunkan ke tempat ini, entah bagaimana selalu memberikan rasa yang sama. Meskipun banyak perbedaan yang kasat mata hampir pada setiap sudutnya, namun nyatanya ia selalu menawarkan ketenangan yang serupa. Syahdu.

Ah, bukankah perubahan itu suatu yang niscaya, ini soal jiwa yang siap atau tidak menghadapinya. Belajar menuliskan memori di lembar yang baru, begitulah kehidupan menyuguhkan kenyataan.

Yang mengganggu dan menelisik kalbu, biarlah ia berlalu tanpa ragu. Dimana ia bersahut, kepada siapa ia terpaut, tak akan jauh dari sembilu.

Maka ucapkan selamat tinggal rindu?

Satu atau Nol

Di kala setiap benda memiliki tombol power yang menentukan hidup dan matinya, begitu pula setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan keduanya.

Hidup dan mati. Satu atau nol.

Jika benda dapat sesuka hati dihidupkan dan dimatikan kembali selama masih ada energi yang mengalir, tidak demikian dengan nyawa. Hanya ada satu kali kesempatan di dunia, dimana kehidupan dimulai dari kelahiran untuk kemudian diakhiri dengan kematian.

Ah, sungguh memang benar kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, selayaknya waktu antara adzan dan shalat. Dan dalam sekejap yang sungguh tak lama itu, apakah sudah kita gunakan dengan baik untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita ketahui akan ditanyakan kemudian?

Ada kalanya, satu per satu atau berombongan, tombol power makhluk yang bernyawa sudah memasuki waktunya untuk ditekan. Iya, sesederhana hanya menunggu giliran untuk penjemputan. Maka cukuplah sabar menjadi pendamping di dunia. Dan pertemuan indah dengan Cinta yang sebenar-benarnya cinta, menanti para makhluk yang niscaya tak pernah berhenti untuk percaya.

“Tak kulihat yang seperti surga, dengan segala gambaran kenikmatannya, bagaimana masih bisa tidur pemburunya? Dan tak kulihat yang seperti neraka, dengan semua lukisan kengeriannya, bagaimana masih bisa tidur buronannya?” (Imam Asy Syafi’i)

Dalam hening senja Bandung,
6 Juli 2017

Inay

*Tulisan ini terinspirasi dari saya yang sekarang hobi mencet tombol power di remote TV karena ga tahan sama suara berisiknya. Gara-gara kelamaan ga punya TV jadi beginilah sekarang, lebih menyukai ketenangan. 😅

Belajar Kecewa

Saya teringat akan satu pertanyaan yang diajukan ketika saya mengikuti wawancara seleksi beasiswa LPDP. Pertanyaan singkat dari salah seorang pewawancara yang berasal dari Psikologi Universitas Indonesia.

Coba ceritakan tentang kekecewaan yang pernah kamu alami.

Jujur saya termenung cukup lama. Dalam hati saya jumawa, ah saya kan tidak pernah kecewa, saya selalu belajar mensyukuri apa yang terjadi dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa. Saya memutar otak kembali, tapi saya perlu jawaban untuk pertanyaan ini. Pikiran saya yang tadi bukanlah jawaban yang akan memuaskan beliau, saya yakin beliau akan menggali lagi terus hingga mendapatkan jawaban yang diinginkan. Kemudian saya putuskan untuk menceritakan kegagalan saya dalam seleksi beasiswa LPDP sebelumnya.

 

Iya, saya sempat gagal dalam seleksi administrasi LPDP batch 1 tahun 2015.  Kegagalan yang membuat saya tidak dapat berangkat kuliah ke Manchester di September 2015. Di tengah penjelasan panjang, saya ternyata beberapa kali menarik napas yang cukup berat. Perlahan menyelami runtuhnya rencana masa depan saya kala itu. Saya yang sudah telanjur ingin pergi dan meninggalkan rutinitas di kantor, bahkan sempat berpikir untuk mengundurkan diri lebih awal meskipun belum mengantongi beasiswa. Namun saya berusaha berpikir dengan jernih di tengah kepingan mimpi yang berserakan.

 

Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk tetap bekerja sembari berusaha menyusun rencana baru untuk masa depan. Atau mungkin sebenarnya alasan saya tetap bekerja sesederhana saya masih perlu uang untuk bertahan hidup. Bertahan hidup di ibukota, tempat dimana mimpi saya mulai dibangun. Namun sisi positifnya adalah di tahun itu akhirnya saya bisa merasakan hidup nyaman di tempat tinggal yang saya miliki dari tetes keringat saya sendiri. Iya, inilah alasan terbesar saya masih perlu uang.

 

Dari kegagalan itu, saya perlahan menyusun strategi untuk kembali melanjutkan mimpi. Tidak pernah terbersit di pikiran saya untuk mengubur mimpi-mimpi itu, saya biarkan mereka tetap hidup mengganggu kenyamanan diri. Selepas bercerita tentang kisah kekecewaan tersebut, saya pun berpikir. Ah iya, saya sebenarnya pernah kecewa namun saya ternyata bisa melewatinya dan menghapus kata kecewa itu dalam kosakata hidup saya.

 

Dan hari ini saya seperti tertampar kembali, inilah sebuah perasaan yang sempat kau lupakan geliatnya. Kecewa ternyata hadir menyapa.

Jangan berharap kepada manusia karena niscaya kamu akan kecewa.

Sejak membaca kalimat tersebut untuk pertama kalinya, saya selalu berusaha berharap hanya kepada Ia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam perjalanan ini kemudian saya mengerti bahwa berharap lalu kecewa itu bagian dari fitrah. Dari sekian banyak siklus harap dan kecewa yang pernah saya lalui, saya belajar. Saya belajar untuk kecewa dan menghadapinya. Saya belajar membuka mata saya untuk mengakui bahwa saya sesungguhnya memang kecewa. Saya bukan manusia super yang sepantasnya jumawa dengan tidak pernah kecewa.

 

Menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis.

Menghadapi kekecewaan bukan berarti tidak boleh bersedih.

Saya belajar menikmati setiap rasa yang tercipta.

Saya belajar menyelami setiap fase yang mendera.

 

Iya, saya belajar kecewa.

 

 

Coventry, 12 April 2017

 

 

GNiwanputri

 

 

 

 

 

 

“To keep your balance, you must keep moving”

Hi, this was my farewell email on September 9, 2016. I believe this is worth to be kept as memory treasure. *grin*

 


 

Dear Friend,

As many of you probably know, today is my last day. But before I leave, I wanted to take this opportunity to let you know what a great and distinct pleasure it has been to type “Today is my last day”. I knew all along that this day would come, still, writing out this mail makes a butterfly in my stomach. The company and especially the team had become kind of a second family to me and the thought of leaving it makes me emotional.

Right since the day I put in my resignation, I tried to take out some time every day to reflect on how my time here at Indika Energy has affected me, my life, my personality. I’ve come to the conclusion that my time here has enriched me as a person and a professional and I consider myself lucky to have taken up the first “nine to five” job of my life at Indika Energy and more so to have been assigned to the team.

Sweet memories have always been mostly during the following phases, and you are a part of the mail because I have had at least one of the below memories with you guys.

1. Lunch time and laughter sessions!

2. All day long meetings

3. Choreographing and dancing in flash mobs

4. Uncountable wefie sessions

5. Toilet secret chats

6. Any random, yet silly moment

But (cliché alert) there comes a time when one has to realign priorities and move ahead. It has been a tough deal, but a conscious one. I am quite excited to step in a challenging phase in my life, however need not to say, what I am leaving behind is also precious.

I wish you all the very best for life. I’ll really miss each one of you hence I am gonna be around. 🙂

Signing Off,

Ginar Santika Niwanputri

helloworld@ginarsantika.com

“To keep your balance, you must keep moving”

 

Dengan atau Tanpa Sayap

Sebelum hari ini berakhir, saya memaksakan diri menulis kisah ini.

img-20161119-wa0046
Menggenapi Usia

Bagi saya, ulang tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa, tapi di tanggal ini saya seringkali, meskipun tidak selalu, melakukan check point kehidupan. Terkadang isi blog saya berselang satu tahun karena kemalasan saya menulis selain di bulan November.

 

Saya terlahir sebagai Scorpio. Sedikit banyak saya meyakini kepribadian berdasarkan zodiak. Selain itu, saya juga terlahir sebagai anak bungsu selama 9 tahun, namun kemudian berubah menjadi anak tengah hingga kini. Iya, jadi saya beranjak dewasa sebagai anak tengah, hingga kemudian saya menjadi ENFJ-A dalam menggenapi usia saat ini.

 

Sambil mendengarkan streaming radio Indonesia, saya menulis ini di meja belajar kamar yang sudah saya tempati selama hampir 2 bulan ini. Where the magic happen, kamar ini menjadi saksi kerja rodi saya semalam suntuk untuk menyelesaikan tulisan 4000 kata, tugas pertama sebagai mahasiswa. Menjadi mahasiswa lagi adalah keputusan penting yang saya ambil di tahun ini. Setelah empat tahun lebih saya menjadi penyumbang kepadatan penduduk Jakarta, saya akhirnya dengan lega dapat mengirim email “today is my last day” ke teman-teman kantor.

 

Selalu lucu rasanya ketika saya mengingat kembali impian dangkal selepas kuliah sarjana dulu. Saya bermimpi, jika menikah nanti, saya ingin menemani suami kuliah ke luar negeri. Bukan, bukan saya yang kuliah, saya cukup ikut untuk menjalankan tugas seorang istri. Ternyata memang Allah selalu punya rencana yang jauh lebih baik, saya sampai saat ini tidak dipertemukan dengan suami idaman tersebut. Allah menyiapkan diri saya untuk sesuatu yang lebih besar, saya diberikan jalan untuk berangkat ke luar negeri, tetapi dalam peran sebagai mahasiswa.

 

Di sinilah saya sekarang, sebuah kota kecil yang berada di Inggris. Kota yang berjarak 14.741 km dari Ibukota Negara Indonesia. Kota yang bernama Coventry. Tidak pernah dengar kota ini sebelumnya? Wajar, saya juga baru mendengar kota ini sekitar awal Agustus lalu. November tahun lalu saya sudah membayangkan akan merayakan ulang tahun berikutnya di Inggris, tapi tentunya bukan di Coventry. Singkat cerita, saat ini saya mengambil International Technology Management di University of Warwick. Kampus saya ini berlokasi di kota Coventry yang notabene hanya berjarak 1 jam perjalanan kereta dari London dan 15 menit perjalanan dengan taksi dari Birmingham. Kisah di balik perjalanan panjang saya menuju Warwick akan saya bagikan dalam tulisan selanjutnya.

 

Dari dangkalnya impian hingga bergesernya harapan, saya belajar. Saya belajar bahwa terbang meraih mimpi dengan atau pun tanpa sayap bukan perkara penting. Bagaimana cara kita terbang dengan kondisi yang ada, itulah pembeda yang menentukan apakah kita akan sampai dengan selamat di tujuan atau tidak. Setiap perjalanan takkan pernah sama, begitu pula cara kita melaluinya.

 

Maka tentukan tujuan, kemudian terbanglah tinggi, dengan atau tanpa sayap. Nikmati setiap jeda perjalanan dan mendaratlah perlahan dengan penuh kepastian.

 

 

Coventry, 19 November 2016

 

 

Ginar Santika Niwanputri