Belajar Bersyukur

Ternyata malam ini pertama kali dalam hidup saya ketika sepotong ayam membuat saya terpana.

Malam ini saya terpana melihat meja makan, ada ayam sejenis KFC! Meskipun mungkin hanya juniornya KFC, tapi ini ayam! Perut saya yang kelaparan sehabis mencuci di sore hari semakin bergejolak hebat. Ayam, meskipun di sini ayam hidup banyak berkeliaran, tapi ayam sebagai teman nasi di meja makan merupakan satu hal yang luar biasa.

Mau potong ayam!

Biasanya orang sini bilang begitu kalau ada sesuatu yang spesial, misalnya syukuran khitanan atau sekedar syukuran kecil dapat rezeki lebih. Makanan yang biasa ada di meja makan sangat cocok untuk menu vegetarian, iya di sini sayuran selalu ada. Saya ingat dulu saya paling malas makan sayur, saya lebih memilih makan lauk saja, tanpa menyentuh sayuran. Menu makan di sini selalu dihiasi cabai, masalahnya bukan cabai merah atau cabai hijau, tapi cabai rawit, dan bukan hanya 3 atau 5, cabai rawitnya bisa lebih dari 10. Saya bukan orang yang tahan makan pedas, tapi lagi-lagi ketika kamu hanya punya 1 pilihan maka belajarlah menerimanya dengan ikhlas. Di sini saya belajar mengelola ego saya, ketika saya lapar, ya saya harus makan jika tidak ingin pingsan di tengah malam. Tak ada pilihan, menu apapun itu, itulah rezeki saya, dinikmati dan disyukuri.

Saya termasuk orang yang mudah bosan dengan makanan, saya bisa saja bilang kenyang dan berhenti makan, tapi begitu ada pilihan menu makan yang lain, saya bisa dengan mudah memasukkan makanan itu ke perut. Jadi saya hanya jenuh dengan rasa yang itu-itu saja, kemudian tergoda dengan rasa baru yang menarik hati.

Di sini, sarapan pagi, makan siang, dan makan malam ditemani dengan menu yang sama. Lagi-lagi perut dan mulut saya belajar bertoleransi, hati saya belajar bersyukur, alhamdulillah saya tetap makan sehari 3 kali. Dulu saya selalu mengeluh ketika menemukan menu makan malam sama dengan menu makan tadi siang. Saya seenaknya saja bilang “ah, ini lagi, males makan ah”, lalu dengan sabar orangtua saya pun mewujudkan keinginan anaknya yang egois ini. Membeli makan di luar, menunya apa saja sesuai dengan keinginan anaknya yang manja. Ternyata hidup yang terlalu mudah terkadang memang membuat manusia berlaku seenaknya ya.

Ga ada apa-apa loh!

Pernah di suatu siang, saya sedang berkunjung ke rumah Selfi di desa sebelah. Siang itu Ibu menyuruh kami makan, Ibu bilang “Ga ada apa-apa loh gin, makan pake kerupuk aja ya…”. Saya cuma tersenyum dan bilang “Ga apa-apa Bu!”. Kemudian saya tertegun melihat 1 bungkus kerupuk dan 1 bakul nasi di lemari makanan, itu saja. Saya kaget ternyata memang lauk siang itu hanya kerupuk, itu pun Ibu sengaja beli dulu kerupuk dari warung, khusus untuk makan siang kami berdua. Hati saya berdesir hebat, ternyata memang bukan basa-basi, memang “ga ada apa-apa” dalam arti sesungguhnya. Saya ingat betapa sering saya menyisakan makanan, betapa mudah saya mengeluh ga suka menu makanan di rumah, saya sungguh jauh dari rasa syukur.

Saya pernah dengar ceramah tentang rezeki, ternyata rezeki kita itu sebenarnya adalah sesuatu yang sudah masuk ke perut kita, misalnya kita pakai uang kita untuk beli martabak, toh yang kita makan itu hanya 2 potong, sisanya dimakan oleh orang lain, betul? Jadi ya memang benar, rezeki kita itu adalah yang benar-benar masuk ke perut kita. Dan benar sekali di dalam harta yang kita punya memang selau ada rezeki orang lain di dalamnya.

Bersyukurlah selagi ingat dan sadarlah ketika lupa.

😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *