Belajar Bersyukur

Ternyata malam ini pertama kali dalam hidup saya ketika sepotong ayam membuat saya terpana. Malam ini saya terpana melihat meja makan, ada ayam sejenis KFC! Meskipun mungkin hanya juniornya KFC, tapi ini ayam! Perut saya yang kelaparan sehabis mencuci di sore hari semakin bergejolak hebat. Ayam, meskipun di sini ayam hidup banyak berkeliaran, tapi ayam sebagai teman nasi di meja makan merupakan satu hal yang luar biasa. Mau potong ayam! Biasanya orang sini bilang begitu kalau ada sesuatu yang spesial, misalnya syukuran khitanan atau sekedar syukuran kecil dapat rezeki lebih. Makanan yang biasa ada di meja makan sangat cocok untuk menu vegetarian, iya di sini sayuran selalu ada. Saya ingat dulu saya paling malas makan sayur, saya lebih memilih makan lauk saja, tanpa menyentuh sayuran. Menu makan di sini selalu dihiasi cabai, masalahnya bukan cabai merah atau cabai hijau, tapi cabai rawit, dan bukan hanya 3 atau 5, cabai rawitnya bisa lebih dari 10. Saya bukan orang yang tahan makan [Read more...]

Gadis Kecil Itu Menangis

23 September 2011   Dalam cerita hidup saya, baru kali ini saya membuat orang menangis, menangis bukan karena ga dibeliin mainan, menangis bukan karena dihukum ga ngerjain pr, menangis bukan karena jatuh kesandung meja. Bukan, bukan itu.   Pagi ini, sebuah sobekan kertas sampai di meja guru ruang kelas 4. jadwal saya mengajar bahasa indonesia di kelas 4. kelas dengan jumlah murid 32, tapi ributnya minta ampun, entah kenapa. Beberapa kali kemalasan melanda ketika harus menghadapi kelas ini, beberapa kali pula waktu di kelas ini saya habiskan untuk berkoar-koar ngurusin anak yang ga ngerjain pr. Mungkin menulis itu sulit untuk mereka, sama halnya yang saya rasakan dulu. Mending dikasih soal matematik berjuta-juta daripada harus membuat tulisan atau karangan. Saya dulu memang penggila Matematika (sampai sekarang sih) dan cukup tidak menyukai (kalau ga boleh dibilang membenci) Bahasa Indonesia. Di semester ini, ujian datang, guru kelas 4 menawarkan (sembari memutuskan, karena [Read more...]

Janji Siswa

Selasa, 1 Maret 2011 Hari ini setelah istirahat adalah jadwal saya mengajar IPA kelas 5. Beberapa alat dan bahan sudah saya siapkan untuk percobaan tentang bumi, mulai dari kertas plano untuk menggambar, plastisin untuk membuat lempengan bumi, gunting, dan lain-lain. Dari malam saya sudah berpikir keras untuk rencana percobaan hari ini. Saya masuk kelas, melangkah dan tersenyum, rasanya sudah lama saya tidak masuk kelas 5, padahal baru seminggu kemarin saya tidak masuk karena ada retraining, tapi entah kenapa rasanya beda, melihat wajah mereka, suara Andre yang tidak pernah berhenti ngoceh, Oji dengan gaya khasnya, Leo dengan tingkah laku aneh nan bandelnya, yap, I miss them, haha. Pelajaran saya awali dengan membahas latihan soal yang saya berikan saat saya pergi ke Karang minggu lalu. Bagian I, pilihan ganda, semua aman terkendali. Masuk ke bagian II, isian, ketika ada jawaban yang berbeda, hampir semua anak bertanya, "kalau jawabannya ini gimana Bu?" semua mau bertanya, semua mau [Read more...]

Sign

01-03-2011 Sign, tanda. Setiap tempat punya tanda, misalnya tulisan selamat datang di Bandar Lampung, atau batas antara TBB dan TB Induk, atau lambang tapis yang ada dimana-mana. Setiap jalan punya tanda, seperti rambu lalu lintas, misalnya S dicoret artinya dilarang stop atau berhenti. Jika lampu merah artinya berhenti dan lampu hijau artinya maju, itulah tanda. Dosen saya, Pak Husni, pernah bercerita tentang tanda, ternyata tanda itu ada kuliahnya sendiri, tanda yang tampak kecil namun ternyata kompleks dan sangat penting dalam kehidupan kita. Semua sisi kehidupan kita terdiri dari tanda, bahkan huruf atau angka itu pun adalah tanda, sesuatu yang abstrak, sepaerti kata Bu Wei, trainer dari I-TEACH. Kita menyebut satuan jumlah, contoh ada sebuah benda berjumlah satu, nah 1 itu sendiri adalah tanda yang disepakati bersama. 1 itu angka yang melambangkan jumlah. Pada zaman prasejarah, sebelum mengenal huruf dan angka, manusia menggunakan gambar untuk berkomunikasi. Itulah tanda, [Read more...]

Belajar Jadi Presiden

"Guru dan murid itu seperti presiden dan rakyatnya" - Faisal Effendi (Pengajar Muda Angkatan 1) Layaknya seorang presiden, semua perkataan yang dikeluarkan dalam bentuk janji, akan ditagih oleh rakyat. Layaknya seorang presiden, semua aktivitas presiden dalam suatu negara, rakyat menuntut keadilan ditegakkan. Layaknya seorang presiden, semua hal yang dilakukan, diperhatikan oleh rakyat. Layaknya seorang presiden, kehadirannya selalu mendapat penghormatan dari rakyat, mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa atau terbiasa. Layaknya seorang presiden, berpidato di depan rakyat, membakar semangat untuk membangun negeri, meski kadang ada yang mendengarkan, ada yang menguap. Layaknya seorang presiden, yang juga manusia biasa, punya kehidupan normal di balik tugasnya memimpin negara. Layaknya seorang presiden, ingin selalu membuat rakyatnya makmur, bahagia, sejahtera, dan damai sentosa. Layaknya seorang  presiden, yang sedang belajar pada rakyatnya. Ya, di sini saya belajar. Bu Guru [Read more...]

Aku Belajar dari Papa

Aku belajar dari papa, selagi kita mampu menolong orang lain, bantulah.. Aku belajar dari papa, membesarkan anak tidaklah perlu dengan marah atau kekerasan.. Aku belajar dari papa, lakukanlah segala sesuatu tanpa mengeluh, tanpa banyak basa-basi.. Aku belajar dari papa, keluarga adalah segalanya.. Aku belajar dari papa, berjuang dan berdoa, niscaya semua akan dimudahkan.. Aku belajar dari papa, setiap anak diberi ruang kebebasan untuk memilih jalan hidupnya.. Aku belajar dari papa, bagaimana menjadi guru yang menyenangkan.. Aku belajar dari papa, banyak hal, terlalu banyak hingga tidak akan sanggup untuk ku tulis semuanya di sini..   Papa, selamat ulang tahun.. Semoga papa selalu diberi kesehatan dan keselamatan.. Semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusan, impian, dan harapan papa.. Semoga usia papa barakah.. Semoga papa bisa terus bermanfaat untuk keluarga, bangsa, dan dunia.. Semoga inay bisa membahagiakan papa, bisa membuat papa bangga, selalu.. Inay sayang [Read more...]

Runaway!

Saya duduk tepat di tengah bis. Di kursi paling belakang. Dari kursi ini saya bisa melihat jalan yang dilalui. Posisi yang asik, bisa jadi pilihan ke-2 posisi selain kursi depan di samping supir. Saya suka sekali memandangi jalan. Entahlah. Ada kepuasan tersendiri. Bis kecil ini membawa saya pergi, berharap semua kegalauan dan tantangan (nama lain dari masalah) dapat pergi juga seiring perjalanan ini. Sudah hampir 6 jam bis ini bergerak. Bis berwarna biru, kecil, hanya bisa membawa sekitar 25 orang. Sering berhenti di tengah jalan gara-gara ada penumpang yang mabuk perjalanan, seringkali dia minta minggir untuk muntah. Siapa yang kira saya akan berpetualang ke kota ini. Kerlip lampu, pertokoan, mobil lalu-lalang di malam hari. Palembang.

Jangan Paksa Aku

Bersembunyi di balik senyum palsu Berbicara sesuatu yang tak tentu Berwajah pahlawan tanpa makna Bercerita kisah menakjubkan yang tanpa rasa Bertutur melakukan sesuatu namun hampa Berbagi keceriaan yang tanpa nyawa

Palsu Tipu Rekayasa Bohong Itu bukan aku Ingin rasanya berteriak Berkoar atas apa yang ada di hati Bukan berarti aku tak mencintai mereka Tapi bukan cinta ini yang aku cari Rasanya ingin pergi Berlari Mencari Untuk sebuah hati yang tak terpenuhi..