Izinkan Aku Jatuh Cinta

Jangan menikah karena jatuh cinta, menikahlah karena kamu yakin dia adalah calon ayah yang baik untuk anak-anakmu. (Asma Nadia) Jadi selama ini aku sungguh hanya jatuh cinta. Rupanya aku hanya jatuh cinta, jatuh cinta pada kumpulan kebaikan. Ternyata aku hanya jatuh cinta, jatuh cinta pada sebuah kecerdasan. Lagi-lagi aku hanya jatuh cinta, jatuh cinta pada dongeng klasik. Kembali aku hanya jatuh cinta, jatuh cinta pada masa lalu. Terakhir aku hanya jatuh cinta, jatuh cinta pada bayangan diriku sendiri. Kali ini aku ingin menemukan dirimu, dirimu yang sesungguhnya. Calon pemimpin keluargaku, calon ayah bagi anak-anakku, calon menantu yang membahagiakan orangtuaku, calon pembuka surga bagiku, dan calon penuntun menuju diri-Mu. Untuk kemudian aku berkata. Ya Allah, izinkan aku jatuh cinta. Untuk kamu yang juga menunggu, semoga doa kita bertemu di lintasan yang sama. Amin.

Aku Belajar

Jika anak banyak dicela Ia akan terbiasa menyalahkan Jika anak banyak dimusuhi Ia akan terbiasa menentang Jika anak banyak dikasihani Ia akan terbiasa meratapi nasibnya Jika anak dikelilingi olok-olok Ia akan terbiasa merasa bersalah Jika anak serba dimengerti Ia akan terbiasa menjadi penyabar Jika anak banyak diberi dorongan Ia akan terbiasa percaya diri Jika anak banyak dipuji Ia akan terbiasa menghargai Jika anak tidak banyak dipersalahkan Ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri Jika anak mendapatkan pengakuan dari kiri kanannya Ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya Jika diperlakukan dengan jujur Ia akan terbiasa melihat kebenaran Jika anak ditimang tanpa berat sebelah Ia akan terbiasa melihat keadilan Jika anak mengenyam rasa aman Ia akan terbiasa mengendalikan diri dan mempercayai orang di sekitarnya Jika anak dikerumuni keramahan Ia akan terbiasa berpendirian ~Dorothy Low Nolte

Izinkan Saya Marah Hari Ini

7 Oktober 2011   Iya, saya marah hari ini.   Puncak dari semua kekesalan yang pernah ada. Kelas itu, begitu menantang, kalau memang tak ingin dibilang nakal dan menyebalkan. Hanya  berisi 31 anak saja, tapi mereka semua ingin bicara, mereka semua ingin didengar. Tentunya tanpa usaha yang keras untuk mendengarkan. Temannya bicara tak didengar, gurunya berteriak tak digubris. Rasanya energi saya terkuras habis setiap masuk kelas ini. Kelas 4.   Apa mereka terlalu muda untuk mengerti bagaimana cara mendapatkan pensil ketika pensil mereka tertinggal di rumah. Apa mereka terlalu muda untuk mencari sendiri rautan untuk pensil yang patah. Apa mereka terlalu muda untuk bisa membagi tugas siapa yang membawa gunting atau lem di kelompok. Apa mereka terlalu muda untuk mengerjakan tugas mereka tanpa mengganggu yang lain. Apa mereka terlalu muda untuk mengerti kalau guru mereka sedang marah. Jawabannya iya, mereka masih muda.   Entah kenapa hari ini kesabaran [Read more...]