Catatan Lampu Merah

Mampang

Saya ingat ini kedua kalinya saya melihat sang Ibu, pembawa gerobak dengan seorang bayi mungil dalam gendongannya. Masih di sekitar lokasi yang sama, kala itu saya berniat memberikan lembaran rupiah yang mungkin tidak seberapa. Saya berusaha merogoh uang di dalam tas untuk kemudian membuka jendela mobil. Sang Ibu ternyata berjalan begitu cepat seolah tanpa membawa beban yang berarti, padahal gerobaknya penuh dengan barang yang jika dijual pun mungkin belum tentu cukup untuk membeli sekaleng susu bagi sang bayi. Mobil saya kemudian melaju dengan arah yang berbeda dengan sang Ibu, saya hanya bisa memandanginya melalui sudut mata sembari mengucapkan doa. Ah, memang sebatas itu yang dapat saya lakukan, selemah-lemahnya iman. Kali ini saya berusaha kembali merogoh tas, namun kecepatan para pengemudi motor itu mengalahkan kecepatan tangan saya. Roda-roda motor menggeliat di sekeliling gerobak sang Ibu. Sang Ibu terlihat tak nyaman namun tetap berusaha tenang memegang gerobaknya, sebuah [Read more...]

Sebuah Kisah

"Saya lulus kuliah 2013, tapi lulus SMA 2004. Saya sempet jualan dulu, trus jadi cleaning service, baru deh bisa jadi OB. Habis uang tabungan cukup, baru saya bisa kuliah. Baru deh saya sekarang bisa kerja di sini." Beliau bercerita ringan tanpa beban dengan penuh senyuman, sedangkan saya berusaha keras menerjemahkan untaian kata-kata ke dalam bayangan semu di kepala. Kisah seorang rekan kerja siang ini membuat saya termenung lama mengingat beberapa masa yang lalu saat berseragam putih abu-abu. Kuliah adalah satu-satunya opsi yang tersedia di hadapan, tanpa perlu memeras keringat atau bahkan turut serta memutar otak bagaimana cara membiayainya. "Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan?" – Read on Path.